ubegebe

Catatan Padang Galir

Voli Tarkam: Kisah Yang Terus Berlanjut Setelah Kompetisi Usai

Sumber Foto: https://www.revolvy.com

Erwin langsung menghampiri anak kecil itu. Sebuah smash, kalo di bola voli biasa disebut spike, yang diluncurkannya memantul ke muka si bocah yang sedang berdiri di depan ayahnya. Erwin meminta maaf dengan tulus. Ia juga menciumi dan menggendong anak. Erwin tak ingin kejadian yang menimpa teman satu timnya terulang. Temannya melakukan hal yang sama di pertandingan lain, namun lupa minta maaf. Hanya berselang seminggu, temannya Erwin menderita panas tinggi berlanjut kejang, akhirnya tangannya tak bisa lagi digerakkan.

Erwin adalah veteran pemain bola voli. Ia pernah mewakili provinsi Riau di ajang Pekan Olahraga Nasional. Ia pun sering menjadi pemain jemputan ketika kampung-kampung di seputaran Sumbar-Riau rutin membuat open tournament. Tarkamnya bola voli. Seperti halnya di sepakbola, Tarkam Voli mungkin adalah kompetisi paling sebenarnya dalam sistem bola voli di Indonesia. Mereka yang menjaga bola voli tetap ada sekaligus menjaga semangat anak muda untuk berlatih meloncat, memukul atau hanya sekedar mengayun-ayunkan lengan tangan.

Beberapa kampung di Sumbar-Riau berani membuat kompetisi bertajuk turnamen bola voli se sumatera. Klub-klub besar diundang. Mungkin mereka bukan anggota liga voli resmi yang didominasi klub asal Jawa. Tapi dari sisi permainan, mereka tak kalah jauh. 

Hampir semua pemain yang bertanding punya pengalaman mewakili daerahnya di level pekan olahraga provinsi atau mungkin level nasional. Kehadiran mereka adalah daya tarik ramainya penonton. Dan bagi pemain, tak ada kebahagiaan lain selain dielu-elukan penonton ketika spike atau block mereka berhasil. Masyarakat kampung dan pemain voli menemukan simbiosis mereka sendiri, ketika kompetisi resmi jarang bergulir.

Lapangan hasil kerja bakti pemuda selama 3 hari bukanlah halangan untim tetap meloncat dan memukul bola. Dinding terpal yang melingkari lapangan tak membuat mereka rendah diri pada mereka yang bermain di gelanggang olahraga berpendingin ruangan. Suara teriakan pemain dan ocehan pelatih tetap terdengar penuh semangat. 

Pertandingan dimulai, dan drama pun bermula. Mulai dari saling cela dari pendukung dadakan sampai ke perang ritual dukun antar tim. Hampir tiap tim punya seorang yang tak bergaya layaknya atlet. Entah karena perawakannya bukan seorang yang disebut pernah menjadi pemain voli, atau hanya dari pakaiannya yang berbeda dengan ofisial lain. Seorang yang ditugaskan menjadi pengurus urusan abu-abu dalam tim. 

Drama lain adalah dari tim penjudi. Mereka yang selalu ada tapi sulit untuk terlihat. Tak cukup hanya soal tebakan hasil akhir. Tebakan bisa saja tentang siapa yang akan bisa memblok smash duluan atau siapa yang akan meraih point pertama. Bahkan hanya untuk sekedar tim mana yang pertama protes ke wasit. Bahkan tak jarang mereka membawa sendiri personil abu-abu juga, agar angka taruhan mereka terjaga.

Terakhir tentu saja penonton. Mereka adalah lakon terpenting dalam semua perhelatan tarkam ini. Mereka yang tak enggan membayar tiket demi melihat smash yang tak bisa mereka lakukan di setiap sore di lapangan kampung. Tiket yang hanya bermodal kertas HVS dan stempel panitia, rasanya melebihi tiket liga voli yang kadang tayang di TV. Semua mereka lakukan hanya untuk bahan obrolan di malam hari, ketika semua menjadi pengamat bola voli di obrolan warung kopi. Minimal untuk satu bulan ke depan.

Categories: #RupaRupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *