ubegebe

Catatan Padang Galir

Untuk Bersatu, Kita Perlu Bergembira Bersama

sumber foto: https://sumbar.antaranews.com/berita/194045/sawahlunto-agendakan-festival-randai-tingkat-pelajar-2017

Harus kita akui, bangsa ini sudah terbelah sejak pilpres 2014, dan ditambah lagi di 2019. Sebagai pendukung Jokowi dan orang minang, saya merasakan dan melihat seperti apa kita terbelah karena perbedaan politik ini. 

Memang telah banyak usaha yang dilakukan untuk merekatkan kembali. Termasuk dari dua tokoh yang berkompetisi ini, mereka telah bertemu. Saling memuji, saling sepakat bersatu demi kemajuan bangsa. Saya rasa kita perlu memberikan apresiasi atas usaha mereka ini.

Tapi di bawah belum sepenuhnya selesai. Lihatlah status-status media sosial kerabat dan kenalan kita. Masih banyak yang bernada tak baik. Saling menjelekkan cebong atau kampret. Beberapa hari ini kita kembali diingatkan bahwa luka itu masih menganga. Reaksi sebagian saudara kita atas musibah yang dialami Pak Wiranto, ada yang terasa menyesakkan ada.

Luka itu harus dijahit. Lalu diberikan obat agar tak menganga lagi. Kalau perlu bekas jahitannya pun tak kelihatan. Ini tugas kita bersama. Terutama para elit politik, pemerintahan dan kemasyarakatan lain.

Saya teringat jaman saya kecil dulu. Ketika saya merasakan semua orang bisa bersatu. Terutama menghadapi kegiatan budaya dan olahraga. Baik di lingkungan tempat saya tinggal atau di kampung halaman orang tua.

Di masa itu semua orang punya waktu bergembira bersama. Mereka punya pekan budaya. Mulai level desa, kecamatan, kabupaten dan lebih atas lagi. Energi masyarakat, terutama kaum muda tercurah ke kegiatan ini. Selepas bekerja rutin, mereka akan sibuk dengan segala persiapan.

Kegiatan partisipatif yang membuat mereka semangat. Saya masih ingat, pemuda kampung saya bahkan sampai mengambil borongan membersihkan kebun warga demi persiapan tim kesenian atau olahraga. Sebagian besar uang borongan nantinya akan menjadi kas pemuda untuk membeli aneka persiapan. Belum bantuan dari ibu-ibu. Mereka tak jarang menyisihkan hasil panen untuk kegiatan budaya.

Ini yang sekarang hilang. Kalaupun ada kegiatan kebudayaan, sifatnya lebih top down. Pendekatan parsitipatif dilupakan. Masyarakat mungkin merasa tidak memiliki acara kebudayaan yang ada. Ketika masyarakat merasa seperti ini, kita dengan gampang bilang yang tidak-tidak, semisal menyalahkan kemajuan teknologi yang membuat kita semakin individualistik.

Masyarakat kita tidaklah seperti itu. Di seluruh desa di negara ini, kerja kolektif masih ada. Mereka masih bisa bersatu bergerak bersama untuk kebaikan semua. Para elit saja yang sering kurang tanggap dan tidak peduli.

Izinkan saya berharap, di periode kedua Pak Jokowi kelak ada kegiatan kebudayaan parsitifatif ini. Kegiatan kebudayaan yang dimulai dari potensi-potensi lokal anak-anak desa kita. Berikan mereka pancingan, selanjutnya mereka akan bergerak sendiri dengan nilai yang lebih besar. Alangkah indanya kita bersatu lagi dalam kebudayaan lokal yang kaya dan indah ini.

Categories: #Garundang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *