ubegebe

Catatan Padang Galir

Seramai Apapun Bandara dan Pesawat Terbang, Kita Tetap Merasa Sepi di Sana

Sumber Foto: https://soekarnohatta-airport.co.id

Awal milenium ketiga ditandai dengan menjadi terjangkaunya tiket pesawat udara. Hampir orang benar-benar bisa terbang. Penerbangan yang selama ini hanya untuk mereka yang benar-benar punya uang atau keperluan sangat mendadak, tiba-tiba bisa dinikmati sebagian besar warga dunia. India sampai membuat pamflet tentang prosedur naik pesawat bagi warganya yang pertama kali naik pesawat. Mulai dari proses pemesanan tiket sampai naik transportasi umun di kota tujuan. Artinya, dekade pertama 2000an adalah dekade dimana banyaknya orang yang naik pesawat untuk pertama  kalinya.

Indonesia jelas juga kecipratan boomingnya penerbangan ini. Bandara Soekarno-Hatta selama 10 ahun terakhir selalu tumbuh positif, kecuali di 2015 yang negatif. Bandara ini juga masuk ke jajaran 20 besar bandara dunia dengan jumlah penumpang terbanyak.
Penerbangan Jakarta-Surabaya juga termasuk 10 besar penerbangan domestik tersibuk dunia. Bersaing dengan Rio de Jeneiro-Sao Palo, Tokyo-Sapporo, Madrid-Barcelona dan New York-Los Angeles. Naik pesawat bukan lagi kemewahan.

Jaman saya kecil dulu hanya orang terpilih yang bisa naik pesawat. Biasanya mereka keluarga kaya atau para pejabat. Gaya dan penampilan mereka sudah pasti berbeda dengan kita para awam ini. Jaman itu naik pesawat artinya pakai jas bagi bapak-bapak atau sasakan bagi ibu-ibu. Penampilan naik pesawat selayaknya pergi kondangan. Kakek teman saya yang orang kaya lama, sampai hari ini masih ngedumel ketika melihat anak muda celana pendek bersendal jepit naik pesawat. Ia masih berkeyakinan bukan seperti itu etiket naik pesawat.

Hari ini, bandara berubah jadi tempat ramai. Keriuhannya tak lagi berbeda jauh dengan terminal bus. Bedanya di terminal bus, kita masih menemui aura kejujuran dan suasana santai. Bandara saat ini, berubah jadi tempat pamer kesibukan dan penampilan. Hampir semua orang di bandara perlu menunjukkan dirinya adalah orang sibuk dengan menunjukkan ketergesaan. Telepon genggam selalu dibuka, untuk mengetik teks atau menelpon orang lain. Tentu saja tak lupa memberitahu kalau sedang di bandara. Bahkan beberapa orang perlu menunjukkan mereka punya beberapa telepon genggam agar orang tahu betapa sibuk dan pentingnya mereka.

Untuk penampilan tak usah diragukan lagi. Mereka berusaha terlihat santai dan kasual dengan tetap kinclong. Terlihat santai sebagai bagian memberitahu orang lain kalau terbang adalah bagian sehari-hari mereka. Bukan sebuah ritual khusus lagi. Sedangkan penampilan kinclong artinya sedang menunjukkan posisi mereka sebagai kelompok terpilih di tengah masyarakat. Padahal, mungkin ini penerbangan pertama mereka dalam dua tahun terakhir.

Bagi yang punya kartu kredit berfasilitas ruang lounge bandara, memanfaatkan fasilitas ini jelas bisa memberikan kebanggaan tersendiri. “Dalam lounge ini, kami akan berbeda dengan kalian yang tak bisa masuk ke sini”, mungkin dalam hatinya berkata begitu. Berada di pesawat yang sama bukan berarti kita tak berbeda.

Bandara, rasanya sampai kapanpun akan tetap menjadi tempat orang yang tergesa-gesa dan sibuk dengan dirinya sendiri. Perjalanan dengan pesawat terbang bukanlah perjalanan bus jarak jauh. Ketika para penumpang bisa berbagi cerita di rumah makan peristirahatan. Apalagi dibandingkan perjalanan kapal laut ke arah timur, dimana penumpang bisa akrab bernyanyi bersama di geladak. Pada akhirnya, seramai apapun bandara dan pesawat terbang, kita tetap merasa sepi.

Categories: #RupaRupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *