ubegebe

Catatan Padang Galir

Radio: Sesuatu Yang Tak Akan Pernah Usai

Paman saya di kampung, seorang veteran rantau di awal periode 1990an, hobinya mendengar radio. Bukan sembarang radio, tapi radio ABC Australia. Australian Broadcasting Corporation. Ia pendengar setia siaran bahasa Indonesia radio ini. Tiap sore dia akan selalu di dekat radionya, menyalakan dengan volume keras. Jika sedang mudik ke kampung, saya pasti menyempatkan “dengar bareng” di rumahnya. Lalu kita mendiskusikan topik yang dibahas. Sebagian besar adalah politik.

Salah satu yang saya ingat adalah Ali Sadikin. Pihak ABC biasanya mengkonfirmasi hal ini dengan pejabat Orde Baru. Soedomo salah satunya. Dari Radio ini juga saya tahu kalau Soedomo dan Ali Sadikin bertetangga. Saya lupa topiknya apa, kira-kira Ali Sadikin berucap seperti ini, “Soedomo silakan temui saya di rumah sekarang. Tadi saya lihat dia sudah pulang”

Di kampung saya akhir 80an dan 90an, radio masih menjadi salah satu media yang mereka dengarkan rutin. Hal yang biasa melihat gembala kerbau menenteng radio kecil ketika bekerja. Atau petani-petani yang bekerja sendirian di kebun mereka. Radio adalah teman mereka mendapat informasi atau hiburan.

Stasiun favorit mereka adalah RRI Programa Padang atau Radio AM milik pemerintah daerah. Di beberapa tempat, mereka bisa menangkap sinyal radio dari Batusangkar. Radio kota ini lebih bervariasi dalam siarannya. Mereka punya drama radio Saur Sepuh dan Satria Madangkara. Iklan-iklan yang tampil juga bervariasi, tak hanya iklan-iklan kaku khas Departemen Penerangan dulu.

Saya sebenarnya lebih bisa disebut generasi TV. Karena di rumah kami, TV lebih sering menyala daripada radio. Radio hanya menyala sore hari di bulan puasa, agar kami tahu waktu berbuka di kota kami. Karena di masa itu, waktu berbuka TV hanya untuk DKI Jakarta dan sekitarnya. Selain ini, persinggungan saya dengan radio adalah ketika tak sengaja menang kuis radio teman yang iseng.

Entah saya yang kuper dan tidak bergaul, saya tak mengerti konsep salam-salam dan minta lagu lewat radio. Hampir semua teman yang berkirim salam dan meminta lagu ini, sudah memberi tahu duluan teman yang mau disalamin. Nampaknya mereka hanya ingin namanya disebut si penyiar. Sampai hari ini, saya masih melihatnya sebagai konsep yang aneh.

Baru saya agak rutin mendengarkan radio ketika sudah punya mobil sendiri. Dalam perjalanan berangkat dan pulang ke kantor, pasti radio saya menyala. Dan saya tak punya channel favorit. Tangan saya akan iseng terus mencari channel lain ketika lagunya tak saya suka atau penyiarnya kebanyakan omong. Walaupun akhir-akhir ini, radio sudah berbagi tempat dengan USB dan playlist telepon genggam saya.

Radio tak pernah lama mencuri perhatian saya. Setiap zaman ia selalu dikalahkan pesaingnya. Dulu sekali ia dikalahkan Televisi. Bahkan diramalkan akan mati dan ditinggalkan. Saat ini dikalahkan beraneka macam gawai. Radio memang bukan lagi media utama informasi utama seperti era King George VI menyatakan keterlibatan Inggris di Perang Dunia II. Radio bukan lagi media utama seperti masanya Letkol Untung merebut RRI setelah peristiwa G30S.

Tapi satu yang pasti, radio selalu mampu bertahan. Mereka selalu bisa berdamai dengan masa. Ketika tak lagi menjadi media utama, radio berubah menjadi media yang bersifat personal dengan “audience”nya. Mereka mengajak pendengarnya berkumpul dan bergembira. Off Air dan On Air mereka padukan. Ketika era internet, mereka pun setia menyesuaikan zaman. Sekarang Online dan On Air yang mereka padukan. Mulai dari penguatan media sosial sampai ke streaming online.

Radio tak pernah benar-benar kalah.

Radio, someone still loves you

Categories: #RupaRupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *