ubegebe

Catatan Padang Galir

Negeri Nehi-Nehi dan Minangkabau

Sumber foto: pexels.com (Kari India)

Urusan pekerjaan menyebabkan saya sering bertemu dengan orang India. Saat ini jumlah mereka banyak sekali sebagai tenaga asing di Negara ini.  Hampir di semua sektor ada orang India. Dunia pun menaruh perhatian besar pada India. Bersama Brazil, China dan Russia, India dimasukkan sebagai kelompok Negara maju baru. Bahkan hari ini, para CEO perusahaan bernilai besar seperti Google dan Microsoft adalah orang India.


Pengamatan saya terhadap orang India membuat saya sampai pada kesimpulan mereka pada beberapa hal punya kemiripan dengan karakter minangkabau. Mereka suka berdebat. Apa saja mereka debatkan ketika bertemu sesama mereka. Akibatnya mereka jadi pintar berkelit. Bersilat lidah adalah keahlian mereka. Sifat lainnya adalah super irit. Penuh hitungan.


Mereka juga etnis yang keras kepala. Walaupun masih berkasta-kasta, mereka cenderung merasa hebat secara individu. Susah untuk diberi masukan, dan selalu berjuang untuk gagasan yang mereka punya. Orang lain mungkin akan memberikan kesan sok tau kepada mereka.  Melihat India, saya seperti melihat karakter minang. Dan saya merasa, orang minang punya potensi hebat seperti India. Kita sama-sama punya kecenderungan merantau. Dulu India juga seperti kita. Perantau mereka berjuang dari dasar, berkembang, lalu jaya. Pulang kampung menjemput isteri. Sedikit malagak, dan kembali ke rantau.


Tapi sekarang India tak begitu. Perantau suksesnya kembali pulang dengan membangun kampung. Menyebut nama ada Lasmi Mittal, sang juragan baja. Vijay Vittal Mallya, sang juragan kaya pemilik team Force India. Semua pulang dan membangun kampung. Mereka tak memulainya dengan sebatas slogan-slogan atau komitmen sekadar seperti Pulang Basamo, Gebu Minang atau sejenisnya. Mereka pulang membawa sesuatu yang dikerjakan. Tak sekadar melagak hilir mudik pamer keberhasilan. Ketika mereka menguasai tenaga-tenaga IT di Amerika, mereka pulang dan membuat pusat IT sendiri di tanah halaman. Bangalore saat ini adalah pesaing terbesar Sillicon Valley untuk urusan IT.


Para minang pedagang tanah abang, menjahit baju dilakukan di Tasikmalaya. Satu toko kecil tanah abang telah menciptakan 6-10 lapangan kerja konveksi di tanah Priangan sana. Alasan yang sama pernah dipakai perantau India zaman dulu, kenapa pekerja tak diambil dari tanah hindustan. Orang yang di kampung malas. Terlalu banyak acara dan ritual keagamaan. Padahal bayangkan jika seribu toko di tanah abang membuat konveksi di kampung. Akan ada 6-10 ribu tenaga kerja baru. Uang pun lebih banyak berputar di kampung.


Tapi itu dulu. Lambat laun, orang yang India menjadi produktif. Mereka sudah bisa mengatur ritme beribadat, berguyub, dan bergoyang tanpa menurunkan produktifitas. Seharusnya orang minang bisa seperti itu. Kita tak semalas yang kita bayangkan. Buktinya, pemuda yang di kampung hanya pamadek labuah, di rantau mereka rela bangun pagi, berhadang sinar matahari dan berpeluh untuk sekadar mengumpulkan uang receh.


Yang kita butuhkan adalah keberanian dan langkah berani meningkatkan produktifitas warga kampung. Cuma dengan syarat, perantau jangan lagi pulang sekadar untuk balagak. Tak lagi hanya sekedar berteriak membeli lelang singgang untuk menyumbang semen mushola. Apalagi cuma sekedar menyumbang lima ribu rupiah di jalan raya. Kita harus lebih dari itu. Tanamkan uang di kampung. Ciptakan lapangan kerja.

India saja bisa. Kenapa kita tidak?

Categories: #BerminangMinang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *