ubegebe

Catatan Padang Galir

Membaca Faldo Maldini

Sumber photo: youtube

Saya awam dalam politik. Zaman kuliah dulu pun, saya bukanlah seseorang yang bisa dibilang aktivis. Hari-hari kuliah saya hanyalah hari nongkrong kere dan pacaran prihatin. Tak ada penggalan kisah aktivis kampus yang saya punya.

Saya memiliki kartu anggota PDI Perjuangan hanya karena keinginan berbeda saja dengan arus utama orang Minang saat ini. Itu pun saya hanya kader biasa, tak ada jabatan di partai tempat saya bergabung. Saya tak begitu berharap untuk ini, terlebih lagi dengan nihil pengalaman di dunia aktivis. Siapa juga yang mau menawari saya posisi kunci di partai.

Menjadi inisiator #MinangPemilihJokowi juga bukan suatu yang bisa dibanggakan. Ini hanyalah komunitas orang-orang biasa yang kebetulan jatuh hati dan mendukung Pak Jokowi. Lihatlah persentase suara Pak Jokowi di Sumbar pada pilpres 2019, malah lebih kecil daripada 2014.

Melihat Faldo, saya seperti melihat kebalikan diri sendiri. Sedari muda dia sudah menjadi seseorang, Ketua BEM UI. Sebuah posisi yang memberikan titik nol yang berbeda dengan sebagian besar teman seangkatannya. Silakan sebut nama-nama orang yang pernah menjabat posisi ini. Mereka dari lulus, sudah berbeda dengan sebagian besar kita.

Jejak Faldo sebagai aktivis kampus sudah diketahui semua orang. Dia pernah dengan gagah berani menentang kebijakan Dirut PT KAI masa itu. Faldo ingin stasiun CommuterLine tetap menunjukkan keberpihakannya kepada pedagang-pedagang kecil.

Faldo juga yang berani mengusili pejabat-pejabat negara ini ketika dia berkunjung ke Eropa. Itu ia lakukan ketika menjadi mahasiswa pascasarjana di kampus top di tanah Inggris. Nampaknya, bagi Faldo bersitungkin (serius) dengan buku dan laboratorium tidak cukup. Fokus harus terus terbagi untuk hal lain.

Ketika kembali ke Tanah Air, Faldo memilih jalur partai politik. Nampaknya ia menyadari sudah saatnya berjuang di jalur formal. Sepertinya masa di jalanan sudah berakhir baginya. Dengan latar belakang aktivis pada masa mahasiswa, titik nol Faldo tentu berbeda dengan kader partai biasa. Titik nol itu adalah sebuah jabatan mentereng, Wakil Sekjen PAN. Sebuah posisi bergengsi buat seorang anak muda usia 20-an tahun yang tak punya garis biru di partai itu.

Pilpres pun datang, posisi Faldo jelas: sesuai tapak yang dipijak partainya. Tak tanggung-tanggung, ia pun menjadi salah satu juru bicara di Badan Pemenanan Nasional Prabowo-Sandi. Jangan dibandingkan dengan saya dengan #MinangPemiliJokowi-nya. Komunitas ini terdaftar sebagai relawan resmi TKN Jokowi saja tidak.

Saya rasa hanya Dahnil Anzar Simanjuntak yang bisa menyaingi popularitas Faldo sebagai jubir muda BPN Prabowo-Sandi. Diadu dengan yang lebih tua pun, Faldo masih imbang dengan Fadli Zon atau Arief Poyuono. Faldo adalah salah satu bintang pilpres kemarin. Pada masa itu ia salah satu yang dicintai temannya sekaligus dibenci lawannya. Sebagai jubir, ia berhasil, kalau tak bisa dibilang paripurna.

Dan, hari-hari terakhir ini Faldo lagi-lagi membuat perhatian kita kembali tertuju kepadanya. Ia membuat langkah berani, meninggalkan posisi tinggi di partai lamanya untuk bergabung dengan partai lain. Partai yang mungkin paling nyinyir melawan pernyataannya ketika menjadi jubir Prabowo-Sandi. Partai yang bahkan tak punya perwakilan di parlemen pusat, karena suara yang tidak mencapai ambang batas minimal parlemen (parliamentary threshold).

Faldo pasti sudah memikirkan efek keputusan beraninya itu. Di kubu lama pasti dia akan dituduh macam-macam. Di kubu baru pun tak semua bisa dengan senang hati menerimanya. Jejaknya ketika menjadi jubir Prabowo masih berbekas jelas. Butuh ribuan hari hujan untuk menghapus jejak ini.

Tapi, putusan telah dibuat. Faldo memilih jalur terjal untuk ke depan. Sebagai lulusan luar negeri dan petinggi partai level nasional, ia biasa berada di samudera luas. Tiba-tiba Faldo mengarahkan haluan perahunya ke teluk yang lebih kecil. Dan, lebih berani lagi, ia memilih berlabuh di dermaga sepi. Dermaga yang dianggap berjarak bagi sebagian besar perahu.

Faldo mungkin berharap dari dermaga kecil nan sepi ini, teluk ini bisa punya gaung lagi. Pada masa depan, Faldo yakin dermaga ini bisa ia besarkan. Sebagai anak pesisir, Faldo tentu punya banyak pelajaran dari saktinya setiap lautan yang pernah dilayari.

Pada usia mudanya, telah banyak rantau yang ia tempuh. Baik itu rantau lahir atau rantau batin. Tentu banyak tuah yang telah dipetik dari setiap rantau yang dia tempuh. Kita tunggu gagasan besar Faldo pada kepulangannya ke teluk bernama Sumbar ini. Gagasan yang siap diadu dengan para tetua di dermaga sebelah. Kita lihat apakah ia memang membawa Sumangaik Baru itu.

Selamat pulang kampuang, Faldo!

Categories: #BerminangMinang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *