ubegebe

Catatan Padang Galir

Bencoolen – Singapore: Andai Pertukaran Itu Tak Pernah Ada

Sources: pexels.com
Sources: http://www.inditourist.com

London 17 Maret 1824, Belanda dan Inggris menandatangani perjanjian tentang Asia Tenggara. Kedua kerajaan ini bersepakat untuk melakukan kocok ulang wilayah pendudukan mereka. Salah satu yang kita ingat dari perjanjian ini adalah Belanda menyerahkan Singapura kepada Inggris. Imbal baliknya, Bengkulu dan seluruh asset Inggris di tanah Sumatera menjadi milik Belanda. Perjanjian ini yang menyebabkan hari ini kita melihat Pulau Singapura dan Pulau Batam yang berjarak sepelemparan batu akik, terpisah dalam entitas dua Negara yang berbeda.

Thomas Stamford Raffles adalah orang yang paling berbahagia dengan perjanjian ini. Dia adalah pengusul utama agar Inggris mendapatkan kuasa penuh penguasaan pulau nelayan kecil di pintu masuk Selat Malaka. Pelabuhan Pulau Pinang dan Malaka terlalu jauh untuk mendapatkan pengaruh besar Inggris di Selat Malaka. Raffles juga merelakan Bengkulu, sebuah tempat yang juga ia cintai, untuk dipertukarkan dengan Pulau Singapura. Begitulah dulu Eropa membagi wilayah Asia seperti ibu-ibu kita membagi kue loyang.

Hari ini. Berdasar data BPS 2014, PDRB per kapita provinsi Bengkulu sebesar 24, 5 Juta Rupiah/Tahun. Jauh di bawah rata-rata nasional yang sebesar 42,4 Juta Rupiah. Bengkulu berada di urutan 28 provinsi se Indonesia. Bandingkan dengan Jakarta dengan 174 Juta Rupiah. Sementara Singapura memiliki GDP per kapita sebesar 51,000 USD/Tahun, dirupiahkan setara 663 Juta. Singapura pun selalu berada dalam lima besar Negara berdasarkan angka pendapatan per kapita. Orang Singapura saat ini, menghasilkan 27 kali lebih banyak daripada orang Bengkulu.

Walaupun sejarah tak bisa dibaca dalam pengandaian. Tapi, seperti apa kira-kira Singapura dan Bengkulu sekarang, seandainya perjanjian itu tak pernah ada.

Bengkulu yang tetap dikuasai Inggris akan tumbuh menjadi kota penting di pantai barat Sumatera. Pemerintah kolonial Inggris akan melakukan segala daya upaya mewujudkan mimpi ini. Inggris melakukan negosiasi dengan perusahaan pengekspor hasil perkebunan wilayah pedalaman Sumatera Selatan untuk menjadikan Bengkulu sebagai pelabuhan ekspor. Posisi Padang sebagai kota utama di pesisir barat Sumatera mungkin akan dikalahkan Bengkulu.

Batubara dan minyak pun ditemukan, Inggris akan memberikan insentif agar komoditas ini diekspor melalui pelabuhan Bengkulu. Bukan perkara berat bagi Inggris untuk ikut mendanai pembangunan rel kereta api Tanjung Enim-Bengkulu  ketika itu. Ingat, di masa itu mereka sedang berjaya dimana matahari tak pernah tenggelam di wilayah “British Empire”. Juga bukan perkara rumit untuk memberikan insentif bea masuk dan bea pelabuhan, mereka melakukan itu di pelabuhan Hongkong.

Ketika industri manufaktur berkembang dan posisi Bengkulu sebagai outlet energi dan komoditi tanah Sumatera, pemerintah kolonial Inggris akan segera membangun pabrik-pabrik pengolahan di bumi raflesia ini. Bengkulu mungkin menjadi pusat produksi perusahaan besar manufaktur Inggris. 

Lalu sistem keungan dunia bertambah kompleks dan rumit, Bengkulu bermetamorfosa menjadi sebuah wilayah untuk orang kaya menempatkan asset keuangan mereka. Bengkulu akan sejajar dengan British Virginia atau Cayman Island. Sebuah tempat sorga untuk berlindung dari pajak.  Ketika orang kaya bersileweran di Bengkulu, Pulau Enggano pasti disulap menjadi sebuah resort kasino terbesar di belahan selatan katulistiwa.  Bandara Bengkulu akan menjadi Bandar penghubung perjalanan udara Sydney-London. Ketika dekolonisasi dilakukan Inggris, Bengkulu telah menjadi sebuah Republik anggota persemakmuran yang warganya benar-benar makmur.

Lalu bagaimana dengan Pulau Singapura seandainya tetap di bawah Hindia Belanda. Pulau ini akan tetap menjadi sebuah kampung nelayan besar. Lalu Belanda membuat sebuah pelabuhan bebas bea seperti Sabang dulu. Republik Indonesia berdiri, status Singapura menjadi sebuah Kabupaten di Provinsi Riau, sejajar dengan Selat Panjang dan Bengkalis. Ketika Provinsi Kepulauan Riau terbentuk, mereka berebut posisi dengan Tanjung Pinang untuk menjadi Ibukota provinsi baru ini.

Bisa jadi….

Categories: #RupaRupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *