ubegebe

Catatan Padang Galir

Bawah Lutut: Kelas Sosial Di Masyarakat Yang Katanya Egaliter

Sumber foto: pexels.com

Mereka adalah yang menghuni pinggiran kampung. Perempuan tak berhak memakai sunting bertingkat di pelaminan. Lelakinya tak boleh bersepatu. Mereka adalah mentimun bungkuk dalam kaum. Antara ada dan tiada.

Kesalahan leluhur membawa mereka menjadi kaum paria dalam kampung.  Apakah itu karena kawin sesuku (marga) atau terusir karena menderita kusta. Di beberapa nagari malah hanya karena menikah dengan orang nagari lain. Secara umum mereka disebut kaum bawah lutut. Terkucil dari kampung. Tak jarang mereka terusir menjadi orang hanyut. Melekat pada sebuah keluarga buat sekedar penggarap ladang nan jauh.

Saya membayangkan kehidupan kaum bawah lutut ini. Membayangkan anak-anak mereka yang bermain di hutan sepi. Juga membayangkan remaja mereka yang sudah tahu status mereka dalam kaum. Menerima dengan terpaksa kalau tak ada gelar yg bisa mereka warisi. Tak ada tempat bagi mereka dalam perjamuan di rumah gadang. Lalu membayangkan lelaki dewasa mereka yg harus mencari kaum bawah lutut lain untuk dijadikan isteri. Tak ada ruang meminang perempuan penghuni rumah gadang.

Begitulah orang minang mendendam. Menghukum dosa masa lalu. Bagaimana kelas sosial dibentuk pada sebuah kaum komunal yg konon katanya egaliter.

Namun saya menyelipkan bangga. Pada anak kaum bawah lutut yang bisa lepas dari belenggu kelas. Mereka yang merantau lahir dan bathin. Mungkin dengan bekerja atau bersekolah. Pastilah sebuah daya yang tak mudah mengingat terbatasnya sumberdaya. Belum cemooh dari kaum sendiri atau kaum sana.

Saya pernah dapat cerita dari sebuah nagari yang begitu kuat memegang sistem kelas ini. Dan mengejutkan. Bahwa saat ini, yang maju dari sisi intelektual dan materi di nagari mereka adalah dari mereka yg dulu dianggap kaum bawah lutut. Mereka yg dicemooh ketika hendak berangkat sekolah atau bekerja.

Saya tak tahu persis bagaimana saat ini orang minang membuat kelas etnis mereka. Sebagian mungkin akan bilang dengan harta atau mungkin dengan tahta. Makanya tak heran kita begitu semangat mengharapkan rasaki harimau. Cara instant cepat kaya. Jadi caleg, jadi pakang atau jadi penambang emas. Cemoohan membuat kita lemah dan tidak percaya lagi pada proses.

Entahlah. Pada kaum bawah lutut saya selalu punya banyak rasa dan juga harapan untuk disampaikan. Saya lelah berharap pada kaum bangsawan rumah gadang atau juga para tuanku di surau. Mereka sekedar nan taralah. Di lapau saya pernah berharap banyak. Tapi hanya omong besar belaka yg saya dapat. Pada kaum bawah lutut harapan itu ada. Dalam senyap, ada dendam yang ingin dibalas dengan indah.

Categories: #BerminangMinang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *